Aku sebenarnya heran, memangnya siapa aku harus memiliki perasaan seperti itu? Apa hebatnya dia sampai bisa meruntuhkan tembok yang selama ini kubangun dengan kokoh untuk menghalangi seseorang memasuki hatiku? Apa hebatnya dia? Dan kenapa pula aku harus memikirkan itu? Bukankah dari awal aku sudah tahu akan seperti ini pada akhirnya? Bukankah dari dulu orang-orang terdekatku telah memberikan gambaran akhir yang sesuai dengan kenyataan yang telah kualami ini? Bukankah dari awal aku sudah katakan pada semuanya, khusunya pada diriku sendiri bahwa aku "just like him, tidak lebih" dengan begitu warasnyaLalu kenapa aku seperti ini sekarang? Aku benar-benar tidak profesional dalam hal ini.
Harusnya aku tidak bermain-main seperti ini. Harusnya aku tidak perlu menumbuhkan perasaan ini. Harusnya aku sadar diri dari awal, dan tidak mengikuti insting bodohku yang begitu kege-eran ini. Harusnya aku mendengarkan perkataan temanku saja. Harusnya aku mengabaikan perasaanku saja, bukannya aku sudah sering melakukan itu? Kenapa sekarang aku dengan mudahnya dikalahkan oleh perasaanku? Dan yang paling kusesalkan adalah, mengapa aku harus memberitahukan kepada semua kalau aku menyukainya? Harusnya aku hanya menyimpannya sendirian. Orang lain harusnya tak perlu tahu perasaanku ini. Karena "harusnya" itu kuabaikan, akhirnya nasibku menjadi seperti ini, terkadang diliputi rasa malu, dan sedih karena sesuatu yang sebenarnya telah kuprediksi sebelumnya.
Tapi bus sudah melaju dan tidak mungkin akan kembali , air sudah terlanjur tumpah tidak akan bisa lagi dikembalikan ke gelasnya. Ini sudah terjadi, aku tidak mungkin mengulang ke masa di mana aku belum menyukainya, tidak bisa mengulang ke masa di mana dia membuatku mengaguminya, dan aku sudah tidak dapat mengembalikan perasaanku ke masa di mana aku tidak perlu menyukai seseorang di dunia nyata. It's over now. Aku kalah dengan keadaan.
Tapi sebenarnya tidak masalah bagiku. Sebenarnya tidak begitu menyedihkan memiliki perasaan seperti ini. Paling tidak aku tahu bahwa aku normal karena masih menyukai lawan jenis. Paling tidak aku masih bisa merasakan panas dingin ketika berada di dekat lawan jenis. Paling tidak karena menyukainya, hariku menjadi lebih berwarna. Dan paling tidak, aku sudah benar-benar bisa melupakan mantan kekasihku setelah sekian lama aku masih menyimpannya di hati.
Bagaimanapun juga, terima kasih banyak wahai kamu karena sudah memberiku warna yang berbeda di akhir perjalananku di kampus ini. Terima kasih. Aku akan mengenangmu sebagai salah satu yang terindah di kehidupanku.